![]() |
| Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H Ridwan Solichin sesaat akan mendistribusikan hewan kurban berupa 6 ekor sapi, dan puluhan kambing/domba ke tiga kabupaten (Sumedang, Majalengka dan Subang) |
JATINANGOR–Banyak hikmah yang bisa dipetik dari ibadah berkurban yang disyariatkan sejak Nabi Ibrahim bagi seluruh muslim di dunia.
Sekretaris DPW PKS Jawa Barat yang juga Sekretaris Fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Barat H Ridwan Solichin, SIP, MSI menjelaskan pelajaran penting dari syariat kurban yang harus dipahami dan diteladani oleh seluruh masyarakat khususnya umat Islam menekankan bahwa kurban secara faktual adalah bentuk kepedulian kepada sesama karena daging kurban harus dibagikan.
“Dari ibadah berkurban ini merupakan bentuk nyata dari bentuk kepedulian atau solidaritas kita dengan sesama anak bangsa di negeri ini. Dalam membagikan dagingnya tidak memandang mana yang kaya mana yang miskin, semua harus merasakan daging kurban ini. Bahkan seperti yang dicanangkan PKS dari tingkat Pusat mengimbau untuk menebar daging kurban hingga hingga pelosok-pelosok daerah,” terang Kang RinSo sapaannya, baru-baru ini.
Anggota Komisi 1 DPRD Jabar ini mengatakan, ibadah kurban merupakan syariat Islam yang diambil dari peristiwa Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Dari peristiwa itu banyak pelajaran penting dari syariat kurban yang relevan bagi kehidupan dewasa ini.
Pertama, sambung Kang RinSo, peristiwa tersebut mengajarkan tentang ujian keimanan dan keiklasan seorang hamba untuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga dan dicintainya kepada Sang Kholik.
“Di dalamnya juga ada contoh nyata dari bentuk ketahanan keluarga. Bagaimana Nabi Ibrahim AS ketika mendapatkan perintah itu dia menanyakannya kepada sanga anak Nabi Ismail AS. Sehingga tidak ada kesan memaksakannya dan tidak berlaku semena-mena,” sebutnya.
Kedua, perintah berkurban ini bagian dari manifestasi kecerdasan emosional dan spiritual manusia.
“Kerelaan berbagi itu butuh kecerdasan sekaligus menunjukkan kualitas tertinggi seorang manusia di hadapan Allah dan sesamanya,” katanya.
Ketiga, masyarakat yang siap berkurban maka bisa dipastikan dia juga siap bela kepada negaranya.
“Analoginya sangat sederhana, berkurban hewan saja mau bahkan dagingnya tidak dimakan sendiri malah harus dibagikan, apalagi berkorban untuk negara dan bangsanya. Perintah berkurban juga jadi bagian dari wawasan kebangsaan dalam membela tanah air,” jelasnya.
Keempat, lanjutnya, berkurban punya ‘multiplier effect’ secara ekonomi. Pemerintah semestinya tidak perlu impor daging.
“Dari perintah berkurban saja multiplier effectnya banyak sekali dalam perekonomian. Ada yang menjadi peternak, ada penjual, ada yang hanya ternak penggemukan saja, ada yang menjadi pengepul hewan ternak, semuanya menghasilkan dan bisa dipastikan akan berdampak dalam ketahanan pangan kita,” terangnya lagi.
Kelima, kurban mengandung pesan kolaborasi yang kuat. “Dalam berkurban terkandung makna kolaborasi dari semua pihak. Semangat kolaborasi ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” imbuhnya.
Keenam, kurban membawa pesan bagi pemimpin. Belajar dari Nabiyullah Ibrahim beliau mendahulukan cintanya kepada Allah dari dirinya dan anaknya. Pemimpin harus demikian, dahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi dan keluarga.
Ketujuh, suri teladan itu sangat penting terutama dari para pemimpin dan elit negeri ini. Di tengah banyak kesulitan rakyat, jangan sampai ada moral hazzard, jangan korupsi, jangan menyelewengkan bantuan sosial.
“Masya Alloh wa tabarakalloh sungguh dari perintah berkurban ini saja banyak hikmah yang bisa dipetik. Semoga ibadah kurban kita semua diterima Alloh SWT, Aamiin,” pungkasnya.(*/rik)
https://sumedang.radarbandung.id/berita-utama/2022/07/12/banyak-hikmah-yang-bisa-dipetik-dari-ibadah-berkurban/

