Subscribe Us

header ads

Kang RinSo Ajak Petani di Jabar Adopsi Pertanian Model “Zero Waste”

 

KUNJUNGAN: Anggota DPRD Provinsi Jabar Fraksi PKS H Ridwan Solichin saat foto bersama Hari Sunarto petani sukses yang menerapkan model "Zero Waste" asal Desa Jagan Kecamatan Sukoharjo Jawa Tengah di lokasi pertanian miliknya, baru-baru ini.


SIAPA bilang di musim kemarau panjang tidak bisa menanam pertanian? Meskipun di lahan kering atau tanah tadah hujan di tangan Heri Sunarto, petani asal Desa Jagan Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah bisa produktif.

Pasalnya Heri Sunarto terbukti berhasil mengembangkan sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan, efesien tenaga kerja, efesien penggunaan pupuk, efesien penggunaan air dan produksi tinggi, dalam satu lokasi dengan memanfaatkan air yang sangat efesien.

Sistem kerjanya, air diputar untuk kebutuhan ternak ayam, sayuran hidroponik, kolam lele, mina padi dan tanaman padi.

Keberhasilan Heri Sunarto itu membuat kagum Anggota Legislatif DPRD Provinsi Jabar yang juga anggota Komisi 1 Fraksi PKS H. Ridwan Solichin, S.IP, M.Si, usai melakukan kunjungan ke wilayah tersebut dalam rangka studi banding untuk meningkatkan pertanian masyarakat di lahan kering.

“Beliau menerapkan konsep pertanian “Zero Waste”, yaitu konsep pertanian sekaligus peternakan yang bebas limbah. Sistem pertanian masa depan yang dikembangkan olehnya bekerja sama dengan ahli teknik lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung),” urai aleg yang akrab disapa kang RinSo ini.

Menurut Rinso, di lokasi lahan seluas 2 hektare ini Heri Sunarto masih bisa panen ayam, sayuran, ikan dan padi di saat musim kemarau ketika lahan-lahan pertanian di sekelilingnya mengalami kekeringan.

RinSo menyebutkan, model pertanian terpadu ini merupakan solusi permanen agar kegiatan budi daya tetap berlanjut di musim kering atau kemarau panjang, dengan demikian, musim kemarau tidak menghalangi petani untuk memproduksi pangan.

“Model pertanian terpadu zero waste sangat menguntungkan karena low input dan pangan yang dihasilkan adalah organik,” sebutnya.

Dengan menerapakan model pertanian ini, Rinso menilai dampak musim kemarau saat nanti tidak akan pernah ada, karena konsep pertanian terpadu zero waste ini dengan mengintegrasikan ternak ayam, sapi, ikan lele, sayuran, bahkan padi.

“Saat kemarau kami lakukan pompanisasi air sumur. Sudah berjalan tiga tahun, panen padi 4 kali pertahun, umur 90 hari panen, varietas padi pandan wangi organik, limbah jerami untuk sapi 4 indukan dan kotorannya dijadikan pupuk bisa untuk 2 hektar,” ujar Heri kepada Rinso saat melakukan kunjungan ke lahan pertanian zero waste beberapa waktu lalu.

Rinso menjelaskan tanaman yang dibudidayakan petani millenial di Kabupaten Sukoharjo tersebut, tetap menggunakan pupuk urea sebanyak 25 Kg per hektare, sebagai starter. Kemudian dipupuk organik dan tanpa pestisida kimiawi.

“Hasilnya, lahan seluas 2 hektare tersebut mampu memproduksi gabah basah 11 ton per hektare, dan jerami bisa untuk memberi makan 4 ekor sapi sampai musim panen berikutnya. Sedang kotoran sapi dijadikan untuk pupuk padat, semua limbah diproses menjadi input pupuk ke lahan sawah, ini tanah dan menjadi subur,” jelasnya.

Pola pertanian terpadu zero waste terdiri dari ikan lele, peternakan ayam, mina padi, sayur hidroponik dan aqua ponik bawang merah dan kolam ikan lele menggunakan bak kolam terpal.

Masing-masing bak bisa berisi 4.000 ekor per bak kolam terpal dengan kerangka besi wiremesh 6 Mm berikut instalasi air, diameter kolam 3m, tinggi 1 m, sedang biaya pembuatan setiap kolam terpal bulat tidak lebih dari Rp 2 juta dan bisa berumur hingga 7 tahun.

“Budidaya ikan lele modal Rp 12 sampai 13 ribu per Kg dan dijual Rp 16 ribu per Kg ikan, dalam satu Kg ikan isi 10 ekor,” sebut Aleg dari dapil Sumedang, Majalengka, Subang ini.

Selain itu, lanjut Rinso, usaha pertanian yang dikembangkan petani dengan model zero waste tersebut, petani menghasilkan juga sayuran selada merah, sawi dan bawang merah dan bahkan komoditas ini tidak saja dijual di pasar lokal, tetapi juga untuk memasok kebutuhan restoran di Jakarta.

“Saat musim hujan tidak perlu pompanisasi dari sumur karena cukup dari air hujan, tetapi saat memasuki musim kemarau dengan penggunaan pompa air dan biaya listrik berkisar Rp 1,2 juta per bulan, dengan kedalaman sumur 60 m dengan jenis pompa submersible pump, cukup untuk melayani kebutuhan air untuk seluruh aktivitas pertanian 2 hektare tersebut” Beber Rinso. (*/rik)


Source: 

https://sumedang.radarbandung.id/berita-utama/2020/02/27/kang-rinso-ajak-petani-di-jabar-adopsi-pertanian-model-zero-waste/