Subscribe Us

header ads

Lanjutkan Estafeta Kepemimpinan dengan Spirit Kepahlawanan Para Pendiri Bangsa

Anggota komisi 1 DPRD Jawa Barat H Ridwan Solichin, SIP, MSi


BANDUNG–Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei harus terus diperingati oleh segenap elemen bangsa. Sebab, momentum penting dari sejarah awal lahirnya organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 tersebut menjadi tonggak penting dari munculnya cita-cita nyata Indonesia merdeka.

Demikian disampaikan Anggota Komisi 1 DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS H Ridwan Solichin, SIP, MSi dalam sebuah kesempatan baru-baru ini. Apalagi dewasa ini, pentingnya memaknai kembali Harikitnas yang sudah berusia 113 tahun dihadapkan kepada tantangan zaman yang mengarah ke revolusi digital.

“Kita tahu organisasi Boedi Oetomo yang menjadi pelopor organisasi pergerakan nasional dan memiliki cita-cita Indonesia merdeka. Kemudian diikuti organisasi-organisasi pergerakan nasional lainnya baik yang bersikap kooperatif maupun nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu,” ulas Kang RinSo, sapaannya.

Sekretaris fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Barat ini juga mengungkapkan alasan kenapa hari didirkannya ‘vergadering’ yang didirikan tokoh-tokoh mahasiswa Kedoteran STOVIA (sekarang UI) itu diperingati sebagai Harkitnas.

“Ya karena mengilhami lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kemerdekaan lainnya yang memiliki perjuangan yang sama menuju Indonesia merdeka. Misalnya kemudian muncul Sarekat Islam yang didirkan Haji Samanhudi dari Solo dan turut dibesarkan oleh HOS Tjokroaminoto hingga gaung SI jauh lebih besar dari Boedi Oetomo dan bahkan sangat ditakuti Belanda,” tandasnya.

Untuk memaknai kembali semangat pergerakan nasional tersebut pada dewasa ini, politisi muda PKS ini menyerukan seluruh elemen bangsa terutama generasi muda saat ini untuk melanjutkan semangat Harkitnas dengan meneladani sikap kepahlawanan para pendiri bangsa ini.

“Apakah tokoh-tokoh pendiri Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Indiche Partij, Perhimpunan Indonesia, Taman Siswa dan organisais pergerakan lainnya pada saat itu menyuarakan cita-cita Indonesia merdeka lantas merasakan alam merdeka. Tidak, generasi berikutnya lah yang melanjutkan estafeta pergerakan tersebut, kemudian cita-cita itu terakomodir dengan adanya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1948 hingga sampailah pada 17 Agustus 1945, butuh waktu kurang dari empat dasawarsa sampai akhirnya cita-cita kemeredkaan itu terwujud,” urainya lagi.

Maka tugas generasi bangsa saat ini, sambung Kang RinSo, untuk terus melanjutkan semangat juang dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dengan mengisinya dengan berbagai sumbangsih yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara.

Kang RinSo manambahkan, generasi Indonesia dewasaini dan yang akan datang menghadapi tantangan yang sama sekali jauh berbeda dengan yang diperjuangkan pendiri bangsa. Jejak heroisme kepahlawanan bangsa ini harus diambil saripati dan teladannya yang ditransformasikan di masa kini.

“Saat ini generasi milenial dituntut terus bekerja keras, memiliki daya saing global, kreatif, teguh, solid dan memiliki integritas sebagai bagian dari bangsa harus dihadirkan pada perebutan kekuatan dan kreativitas di era revolusi digital ini,” tandasnya lagi.

Para pahlawan milenial ini harus berani tampil menjadi inspirasi bagi bangsa ini, untuk menjadikan bangsa Indonesia tidak sebagai pasar digital, namun sebagai pemain arus utama dalam kontestasi digital masa kini.

“Di masa yang akan datang, estafeta kepemimpinan bangsa ada di pundak generasi muda saat ini sebagai penerus keberlangsungan bangsa ini. Bangkit terpuruknya bangsa ini di masa depan, akan sangat bergantung kualitas kekuatan generasi muda generasi milenial saat ini”, pungkasnya.(rik)


https://sumedang.radarbandung.id/berita-utama/2021/05/20/lanjutkan-estafeta-kepemimpinan-dengan-spirit-kepahlawanan-para-pendiri-bangsa/